Banjir di Awal Tahun 2020

Banjir di Awal Tahun 2020

Banjir, yup itulah kata yang memenuhi seluruh media saat ini. Jakarta dan sekitarnya terjadi banjir di pagi hari awal tahun baru 2020. Hujan deras yang terjadi sejak sore 31 Desember 2019 hingga pagi mengakibatkan tergenangnya beberapa area perumahan dan jalan.

 

 

Seperti rute jalan kerja yang saya lalui pagi itu, mulai dari genangan depan Sparks, dimana pada atas jalan layang yang mengarah ke jalan Gatot Subroto, terdapat 1 mobil dan 1 motor mengalami masalah (mogok) dan samping Balai Kartini hingga Puri Denpasar Hotel, di sini cukup parah, beberapa motor mogok setelah melewati genangan setinggi dengkul orang dewasa. Bagaimana motor saya ? Pengalaman dari banjir sebelumnya, jangan nyalakan mesin, jadi didorong saja saat itu dan alhamdulillah lancar setelahnya.

Sayangnya, saya tidak sempat mendokumentasikan kejadian itu, karena situasi yang tidak memungkinkan serta HP saya yang tidak anti air. Beberapa teman melaporkan daerahnya juga mengalami banjir seperti Ciledug dan Bekasi, dan dibawah ini salah satu penampakannya, hehehe.

Semoga kejadian ini cepat berlalu dan kita dapat mengambil hikmah dari kejadian ini, amiiinnnn.

 

Catatan Grab 2019

Catatan Grab 2019

Malam hari dapat info dari Grab, biasanya sih promo tapi kali ini berbeda, yaitu……cek sendiri ya.

 

 

Pakai Grab sejak 28 Februari 2016 ? Masih balita nih.

3 Januari saya pergi kemana ? saya juga lupa dan saya cari di History, ternyata hanya 1 bulan terakhir dari menu Transport, jika dari menu Transactions, terakhir Juli 2019.

41 kali naik Grab dengan jarak 387 km, paling saya pesan untuk sendiri bisa dihitung dengan jari, selebihnya akun kantor dan pesan untuk orang lain.

12 kali pesan Chatime, manja banget sih, padahal jalan kali paling 5 menit ke sana. Tapi memang sih, kadang ketika di Lotte atau BK, saya pesan Chatime, karena mau ambil promo aja, dan tentunya Grab juga hemat waktu antar, hehehe.

Ok demikian sementara informasinya, kita tunggu update Grab di tahun berikutnya.

 

Selamat Tinggal BlackBerry Messenger

Selamat Tinggal BlackBerry Messenger

Kamis malam, 18 April 2019 sekitar pukul 21:45 WIB, seperti biasa, setelah sampai kantor, saya browsing beberapa situs untuk mengetahui informasi sekitar dan cukup kaget ketika membaca judul artikel di atas. Setelah memastikan ke situs resminya, memang berita tersebut benar. Berikut beberapa screen shoot dari situs https://blog.bbm.com/2019/04/18/time-to-say-goodbye-english-version/.

 

 

BlackBerry (BB) mempunyai kisah nostalgia sendiri buat saya. Pertama kalinya saya menyentuh perangkat BB sekitar tahun 2008, yaitu BB Bold 9000 yang masih menggunakan trackball, milik atasan yang ingin disetting email dan diaktifkan BlackBerry Messenger (BBM). Memang saat itu, dari beberapa perangkat yang pernah saya coba, hanya BB yang boleh dikatakan paling sukses dalam layanan push email.

Tahun 2010, barulah saya pertama kalinya mempunyai BB sendiri, yaitu BB Torch 9800, harga saat itu sekitar 5 juta rupiah. Saya mempunyai alasan kenapa baru membeli BB saat itu, karena adanya keyboard fisik dan layar sentuh dalam 1 perangkat. Sebelum membeli BB tersebut, saat itu saya masih mempunyai Nokia C6, yang mempunyai layar sentuh dan keyboard fisik juga, hanya beda model gesernya saja. Handphone yang menggunakan keyboard fisik saat itu masih merajai dibanding layar sentuh, jadi perlu sedikit adaptasi untuk perubahan tersebut.

PING PING PING, bunyi yang sangat khas dari BB, yang mungkin sampai sekarang masih ada yang menggunakannya di WA, tetapi hanya P P P saja. Belum adanya privasi saat itu, sehingga ada yang seperti 1 tahun lamanya menunggu jawaban yang statusnya sudah R, hehehe.

Cukup puas saya memakai BB tersebut, hingga akhirnya BB mengeluarkan perangkat tablet untuk meramaikan pasar dari pesaing lainnya. BB Playbook (PB) 16 GB jatuh ke tangan saya setahun kemudian. Alasan saya membeli PB ya karena bisa disambungkan dengan BB, cukup mudah untuk melakukan BBM dari PB ini. Entah setelah beberapa kamera PB mengalami kerusakan, sehingga cukup mengganggu dan tidak adanya update dan dukungan lagi untuk perangkat tersebut, hingga akhirnya saya memuseumkan lebih dahulu perangkat ini.

Berikut tampilan Nokia C6, BB dan BP yang saya temukan kembali setelah sekian lama tersimpan, selamat tinggal kawan.

Terima Kasih Barapi

Terima Kasih Barapi

6 Oktober 2018, Barapi memposting tampilan berikut di IG-nya, yang dimana saya menjadi salah satu follower-nya (dibacanya kurang enak jika ditulis “pengikut”, mohon dimaklumi ya). Saya coba mengikuti S&K tersebut, ya pastinya dengan harapan menang, lumayankan kado makan malam gratis.

Alhamdulillah, memang sudah rejekinya, foto saya terpampang juga sebagai pemenang dan sebagai kado ulang tahun pastinya.

Oh iya, sekedar info, Barapi adalah restoran yang menyajikan steak dan semacamnya. Saya mengetahuinya karena rute jalan kerja saat itu dan tentunya juga karena adanya papan info di depannya yang sering memberikan info promo.

Saya lupa tepatnya kapan pertama kali ke sini. Terlihat dari tampak depan, sepertinya tempatnya tidak terlalu luas dan benar dugaan saya, ketika pertama kali masuk ke dalam setelah melalui kasir, tampak sekitar kurang lebih 7 meja dengan ukuran berbeda, untuk berdua dan berempat, jika lebih ? ya tinggal menggabungkan saja meja tersebut.

Bagi kalian yang lokasinya berdekatan, silakan mampir untuk mencoba kelezatan burger dan steaknya. Sukses selalu Barapi. Terima kasih.

 

Terima Kasih Panasonic

Terima Kasih Panasonic

Yah, TV-nya gak nyala !!! padahal semalam normal, apa karena nonton filmnya dari USB ya ? Itulah sekilas info dari istri ketika ingin menonton TV dan dugaan saya perihal tersebut. Yup, tidak ada lampu indikator orange standby yang menyala, saya telah mencoba cabut dan pasang ulang kabel power, hanya lampu indikator kuning berkedip sekali setelah itu mati. Istri saya mengatakan paginya si F2 ada utak-atik di sekitar belakang TV. Saya saat itu tidak ada curiga apapun dengan tingkah lakunya mengingat TV tersebut terpasang di dinding, so apa yang mau diutak-atik sama dia.

Akhirnya saya coba lepas dari dinding dan tempatkan sementara dilantai sambil coba penanganan lebih lanjut dan akhirnya masih nihil. Akhirnya saya hubungi 0804-111-1111, prosesnya tidak terlalu lama untuk mendatangkan teknisi, sekitar 1-2 hari kedepan dengan biaya Rp. 100.000 karena sudah tidak bergaransi, jika memang benar, saya acungkan jempol untuk Panasonic. Jika ingin membaca alasan saya memilih Panasonic, silakan baca di sini.

Tidak ada kabar dalam hari pertama dan barulah saya dihubungi teknisi sekitar pukul 11 pagi dan dijanjikan akan tiba sekitar pukul 3 sore. Karena saya saat itu sedang libur jadi tidak ada masalah dengan waktu tersebut, namun jika tidak bisa, seharusnya bisa dijadwalkan ulang. Sekitar pukul 15:30 WIB, 2 teknisi tiba di rumah dan langsung melakukan pengecekan, hasil sementara sama dengan pengecekan saya di atas sebelumnya.

Dalam 5 menit kurang, TV saya sudah terbongkar bagian belakangnya, dibantu Multimeter Analog tidak ditemukan gejala kerusakan namun teknisi menduga ada kerusakan di mainboardnya. Berapa harganya Pak ? Sekitar 1.5 juta katanya, wow kepala langsung dikelilingi bintang kejora. Saya belum ambil keputusan untuk itu dan komponen TV pun dipasangkan seperti semula, karena tidak ditemukan indikasi kerusakan, jadi ingin dicoba kembali dan alhamdulillah bisa menyala. Diinfokan oleh teknisi pertama yang sepertinya “beruntung” menemukan kendala tersebut ketika proses pemasangan kembali, yaitu disebabkan oleh tombol power di posisi belakang dalam kondisi mati dan benar ketika dicoba kembali hasilnya memang seperti kondisi di atas, teknisi kedua juga bingung seperti saya, “jika memang tombol dalam posisi mati, kenapa indikator hanya berkedip sekali lalu mati ?” ternyata jika tidak dalam posisi siaga alias dimatikan, akan seperti itu hasilnya.

Usut punya usut, kemungkinan benar seperti info istri di awal, 99% pelakunya adalah F2, karena hanya tangan imut dia yang bisa menyelinap antar celah tersebut, andai saat ini dia sudah bisa bicara, mungkin akan dibuat pengakuan, hahaha. So setelah dilakukan pengecekan ulang, akhirnya TV saya bisa dipergunakan kembali.

Dalam hal ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua teknisi tersebut (maaf, saya lupa namanya) dan CS bernama Yuni yang telah membantu saya, semoga Panasonic bisa mempertahankan pelayanan cepat ini kepada pelanggannya. Terima kasih Panasonic.

 

Bila Nanti Saatnya Telah Tiba

Bila Nanti Saatnya Telah Tiba

No no no..judul di atas bukanlah sebuah penggalan lagu yang sedang sering diputar saat ini (Akad) dan ini adalah…

Saya tersadar kembali ketika sedang memakaikan baju anak ke 2 setelah mandi dan saat itu ada abangnya di samping. Sekitar 1-2 tahun lalu, ketika melakukan hal yang sama, abang selalu diam saja ketika dipilihkan pakaian, namun setelah mengenal pakaian, terkadang dia bilang “abang gak mau pakai baju itu..maunya baju merah” atau dia berlari ketika mau dipakaikan baju sehingga terjadilah kejar-kejaran hehehe. Hal tersebut kemungkinan juga akan terjadi pada adiknya bila nanti saatnya telah tiba.

Ya ya ya..bila nanti saatnya telah tiba semua akan berubah seiring perjalanan waktu. Paragraf di atas hanya sebagai contoh saja, dan ketika mereka sudah mulai mengerti maka kemungkinan akan terjadi hal berikut :

Bila nanti saatnya telah tiba..mereka akan sekolah untuk pertama kali dengan seragam imutnya. Saya masih ingat ketika SD dimana botol minum selalu ketinggalan di kelas ketika pulang, ternyata bukan orang tua saja yang pelupa, anak SD pun mengalaminya, hehehe.

Bila nanti saatnya telah tiba..mereka akan meminta privasi sendiri. Hal ini terjadi biasanya ketika remaja dan mulai mengenal pergaulan. Hmmm waktu remaja alhamdulillah jadi anak baik (klo gak salah ingat loh ya) :) ya sekalipun nakal juga nakal anak cowo yang masih wajar lah. Semoga kalian lebih baik dari ayah ya Nak..muachh.

Bila nanti saatnya telah tiba..mereka akan mengenal tentang lawan jenis..hmm no comment deh kalo hal ini. Intinya sebagai orang tua wajib mendidik sebaik mungkin agar tidak salah pergaulan dan tindakan.

Bila nanti saatnya telah tiba..mereka akan menikah..saya berharap mereka akan menikah sekitar umur 25 an, why ? karena umur kami berbeda jauh, jadi gak ada salahnya berharap masih ada kesempatan menggendong cucu yang lucu, amiin.

Bila nanti saatnya telah tiba..sebenarnya masih banyak lagi contohnya lainnya dan lebih detailnya tapi saya kira sudah cukup dan bila nanti saatnya telah tiba..akan saya update kembali ya.

Bila nanti saatnya telah tiba..ku ingin kau menjadi…