“Jalan-jalan kemana lagi nih kita ?” si Agung yang anak motor maunya ke Hejo dan pastinya naik motor pula, namun karena saat itu musim hujan agak gimana gitu. Sempat juga rencana ke Lampung tapi rencana tinggal rencana akhirnya kita ke tujuan si Agung deh. Kita berempat jalan sekitar pukul 10 malam, tunggu si Agung selesai tugas dan telah ditunggu Lae Hotby di sekitar Kranggan.

Sampai sini pun juga masih belum ada tujuan untuk menghabiskan waktu malam, cek di peta lokasi Leuwinya kurang lebih 1 jam sampai tapi siapa juga yang mau tengah malam ke air terjun, hiiiii. Akhirnya kita coba cari makan dulu deh, mungkin aja nanti bisa dapat ide. Jalan tengah malam dari Kranggan – Cileungsi – Wanaherang – Gunung Putri hanya untuk mencari bubur kacang hijau, hahaha, dan Alhamdulillah dapat setelah sekian tempat disinggahi.

Yawdah kita ke Puncak aja, esoknya pulang baru ke Leuwi Hejo, itulah ide dari saya yang akhirnya selesai makan langsung ngacir ke Puncak dan hanya memerlukan waktu 30 menit, ya iyalah jalannya jam 2 malam. Sampai atas cari-cari penginapan murah ya karena hanya tinggal sedikit waktu tersisa sebelum check out dan akhirnya dapat juga 1 kamar tiga tempat tidur cuma 200 ribu plus bisa ngopi sepuasnya. J

Habis check out baru lah kita check in, lah kok ? iya kita cari penginapan lagi, kali ini pakai Traveloka dan hasilnya kita menginap di Grand Pesona Ksatria, tempatnya bagus dan terjangkau, next time jika ke Puncak lagi, mungkin saya akan menginap di sini lagi. Habis check in kita jalan cari makan yang murah meriah dan menyehatkan, mampirlah di rumah makan depan pertigaan arah Taman Safari. Untuk menghabiskan sisa waktu sore, kita jalan ke arah TS, hanya numpang lewat aja sih niatnya hahaha, tapi ternyata ada taman kecil ketika arah pulang tersebut, namanya Taman Recycle, jadi kita istirahat sejenak di sana.

Malam hari hujan pun turun, terpaksa cari makan di depan penginapan saja dan tidak bisa jalan kemana-mana hingga matahari terbit esoknya.

Jalan ke Leuwi Hejo kita ambil arah Sentul, tepatnya ikuti Google Maps sih, jalannya kurang lebih searah dengan Gunung Pancar yang pernah saya singgahi beberapa waktu lalu tetapi jika tidak salah, saya ambil ke kiri untuk ke arah Leuwinya. Jujur saja, jalannya menurut saya agak menyeramkan, kanan – kiri jurang dan terjal berliku, jadi dipastikan hati-hati sekali dan jika sedang hujan, saya sarankan untuk tidak ke lokasi.

Sampai di depan gerbang, kita bertanya dulu ke penduduk setempat, untuk memastikan saja bahwa ini memang lokasi yang kita cari, maklum sepanjang jalan banyak penunjuk arah ke lokasi disertai lokasi wisata lainnya. Disarankan oleh mereka untuk parkir motor ditempat parkir terakhir, entah apa alasannya kita coba ikuti saja.

Ternyata alasannya untuk menghindari jalan yang cukup jauh dari tempat parkir awal, saya tidak menghitung berapa meter tapi mungkin jika jalan kaki mungkin akan memakan waktu sekitar 7 menit dari parkir awal ke akhir karena jalannya berbatuan. Jadi ada plus minus dalam hal ini, minusnya adalah jika terjadi hujan, harus lebih berhati-hati karena jalan sangat licin.

Ada dua pintu masuk, langsung ke Leuwi Hejo atau ke Leuwi Cepat dulu baru nanti pulangnya melewati Leuwi Hejo, alasannya ya biaya masuknya, tapi ternyata sama saja, setelah selesai dari Leuwi Cepat harus bayar lagi untuk ke Leuwi Hejo.

Kita bermain cukup lama di Leuwi Cepat karena jalan menuju ke sini pun lumayan ngos-ngosan loh, ketahuan jarang olahraga J jadi sambil istirahat dulu. Sampailah di Leuwi Hejo yang katanya sih mirip Green Canyon di Pangandaran versi mini. Jika saya lihat sih gak terlalu ya, entah karena saya tidak berenang, tapi melihat dari atas sudah ngeri duluan, kayanya sih cukup dalam. Beda dengan di Pangandaran, rute airnya telah saya lewati dulu baru kita melompat dari atas batu, jadi lebih aman.

Kita akhirnya main air di bebatuan saja tapi gak sambil timpuk-timpukan batu ya, bisa benjol nanti, wkwkwk. Hanya sekitar 10 menit kita di sini lalu kembali ke parkiran, dan OMG, sungguh terlalu, ternyata hanya sekitar 5 menit sudah sampai ke parkiran, ngapain juga kita sampai keliling atas dulu jika tempatnya cukup dekat, ya ambil positifnya saja, kita berolahraga sambil melihat Kuasa Sang Pencipta.

Pulangnya kita ambil arah berbeda karena diinfokan warga setempat jalan tersebut ke arah Cibinong, lah dah dekat dunk ? semoga sih, hehehe. Jalur pulang boleh dibilang lebih aman dan bagus dibandingkan jalur datang yang kami lewati walaupun saat itu turun hujan. Alhamdulillah, ternyata benar, kami pun tiba di belakang Polsek Cibinong, dekat dengan pasar Cibinong dan di sinilah kami berpencar dan sepertinya liburannya sebelumnya, saya harus ke kantor karena shift malam, hahahaha tragis.