‚ÄčAlhamdulillah, itulah yang pertama kali saya ucapkan dan alhamdulillah kembali karena :

1. Rencana perjalanan ini seharusnya sekitar Juli 2019 dan selanjutnya akhir Desember 2019 sesuai pembahasan pada perjalanan ini, namun pada Juli jadwal kami belum memungkinkan dan mendekati Desember, saya sudah pesimis karena ada rekan kami yang sedang berduka di bulan sebelumnya, jadi tidak mungkin juga saya membahas liburan namun manusia boleh merencakan, Tuhan lah yang menentukan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, awal Desember WAG berbunyi terus dan langsung eksekusi tanggal dan tempat saat itu juga, sehingga jadilah artikel ini.

2. Musim hujan ? so pasti, sejak SD sudah diinfokan bulan yang berakhir Ber, waktunya musim hujan, walaupun sekarang sudah meleset. So, apa hubungannya ? Cekidot.

Seperti biasa, kami jalan setelah masing-masing selesai jam kerjanya. Rencana perjalanan jam 7 malam, mengingat waktu yang ditempuh ke Pelabuhan Merak sekitar 4 jam dari lokasi kami. Namun apalah daya, hujan yang tiada henti membuat kami gaspol sekitar pukul 9 malam walau saat itu hujan masih setia juga menemani kami hingga sampai di Pelabuhan sekitar pukul 1 dini hari.

Kami hampir menunggu sekitar 1 jam sejak pembelian karcis dan menaiki kapal. Saya yang baru pertama kali ke sini, jujur saya sepertinya kurang mendapatkan informasi yang sesuai untuk kapal karena kami telah bolak-balik sekitar 3 tempat untuk menaiki kapal.

Deg-deg an ? Biasa aja kok, walau gak bisa berenang, tetap santai walaupun baru pertama kali naik kapal laut, wkwkwkw, sebelumnya hanya naik kapal nelayan jika wisata ke Pulau Seribu, Jika saya naik pesawat, “Critical Eleven”-nya tentu berbeda.

Setelah parkir motor, banyak yang terburu-buru naik ke atas, saya yang baru pertama kali naik ya biasa aja, ternyata oh ternyata mereka mencari tempat istirahat yang enak (posisi wenak), hahahaha. Sayangnya kami kehabisan tempat di ruang tersebut, namun masih ada ruang lain, boleh dibilang kelas 2 lah, tetap ada AC juga kok dan bisa tidur dengan nyaman.

Bisa tidur ? alhamdulillah 1 jam. Sekitar pukul 4 pagi ada pengumuman kapal akan segera tiba ditujuan dan selepas sholat Subuh di kapal, tak lama kami pun gaspol lagi. Dari Pelabuhan ke Bandar Lampung sekitar 1 jam 30 menit dimana jalanan saat itu sangat lenggang atau memang selalu begini kah ? Kami tidur sejenak di SPBU 24.352-46 dimana perjalanan masih sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi.

Akhirnya sekitar pukul 11:30 sampai juga di , klak klik, ambil foto dulu dunk, hahaha. Ternyata ada penunggunya, maksudnya staf yang menawari kami untuk bermalam dan berwisata di sana. Oh iya, perjalanan ini kami tidak mencari tempat penginapan online sebelumnya, jadi memang langsung mencari di lokasi. Setelah melihat sekitar 4 lokasi, kami mendapatkan tempat yang layak (murah dan pemandangan bagus).

Istirahat sejenak dan sore hari kami wisata ke Pulau Kelapa. Oh iya lagi nih, sebelumnya saya telah konsultasi ke mas Guntor, yang pernah ke sana sebelumnya, dia menginap di Pulau Kelapa dan jalan menuju ke Teluk Kiluan kurang begitu mulus (memang sih, saya lihat banyak tambalan aspal, mungkin telah diperbaiki). Untungnya saya gak mengikuti menginap di Pulau Kelapa, kenapa ? karena setelah malam tiba, oh tidakkkkk, gelap sekali dan hanya ada beberapa penginapan dimana kamar mandinya terpisah alias di luar dan 1 warung makan saja serta darah kami pun menjadi santapan lezat para kawanan nyamuk di pulau tersebut.

Kembali ke penginapan, kami langsung disuguhi makanan laut yang telah dipesan sebelumnya, harganya masih terjangkau dan rasanya tidak begitu mengecewakan. Sinyal HP selain pelat merah, jangan harap bisa online di sini. Untungnya Lae Hotby berbaik hati menjadi ISP sementara, akhirnya bisa online juga. Rintik gerimis pun menjadi pengiring tidur kami saat itu.

Inilah yang menjadi acara utama, melihat lumba-lumba dengan tantangan yang luar biasa. Memang disarankan sekitar pukul 6 sampai 8 pagi waktu yang tepat untuk melihatnya. Sekitar 1 jam di lautan lepas mencari mereka, akhirnya terbayar sudah lelahnya perjalanan ini, 30 menit bersama lumba-lumba cukup membuat suara ini hampir habis dan ekstra hati-hati, karena ? ya karena saat merekam mereka, HP saya tidak ada pengaman lebih seperti ring, jadi jika saat itu ada hentakan dan tercebur, oh tidakkkkkk.

Setelah makan siang, kami langsung gaspol kembali dan sebelum masuk pintu pelabuhan, menyempatkan untuk beli oleh-oleh yang disesuaikan dengan kondisi tas ransel, iya tas ransel karena hanya itu yang memungkinkan untuk menyimpan makanan tersebut.

Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama, mulai dari antrian tiket, saran saya bawa E-Money, karena saat di Merak bisa menggunakan uang cash, di sini dibantu oleh petugas tiket dengan milik mereka namun tentunya ada biaya admin, masih terjangkau kok.

Untuk penginapan yang kami tempati bisa menghubunginya pada gambar terakhir dan gambar sebelumnya adalah rencana tempat yang akan kami kunjungi, namun apalah daya, jalan yang kurang bagus serta waktu yang tidak memungkinkan, rencana tinggal rencana.

Ingin kembali lagi ke sini ? saya akan berpikir ulang dengan baik, semoga pemerintah setempat memperbaiki jalan ke area ini, memasang lampu penerangan dan menjadikan tempat wisata yang lebih berkualitas agar bisa membantu perekonomian warga sekitar. Kok jadi kaya pidato ya ? biarin aja, hahaha.

Sampailah kami kembali di Pelabuhan Merak, namun sebelumnya makan malam dulu di sekitar situ sambil merencanakan perjalanan selanjutnya, yaitu Juli 2020. Sampai di rumah sekitar pukul 2 dini hari dan melanjutkan dari point 2 di atas, alhamdulillah di dalam perjalanan datang dan pergi, cuaca sangat bersahabat, kecuali saat awal menuju pelabuhan dan hujan pun turun kembali setelah kami tiba di rumah masing-masing.

Selamat beristirahat…